Friday, 27 January 2017

Mimpi itu.....


Mimpi
Mimpi itu..
Apa yang terlintas di pikiran manusia ketika sedang terlelap
Apa yang menjadi pikiran setiap manusia yang hidup di dunia
Apa yang selalu diinginkan oleh semua orang, dan berbeda satu sama lain
Apa yang dicita-citakan sesorang

Jadi, mimpi itu apa?
Mudahkah meraihnya?
Bukanlah hal yang mudah untuk meraih sebuah mimpi. Terkadang, berbagai halangan dan rintangan datang menghampiri. Bukan hanya satu. Tapi, bertubi-tubi.
Satu hal yang pasti. Mempercayai mimpi itu tidak salah. Sama sekali tidak salah. Terkadang kita hanya terlena. Terlena dengan keindahan-keindahan dunia yang sebenarnya justru menghalangi kita untuk meraih mimpi tersebut. Terkadang kita menyerah. Mimpi itu kelihatan tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Tapi, siapa sangka? Suatu hari mimpi itu datang menghampiri. Tapi, apa bisa sebuah mimpi yang tak pernah diusahakan tiba-tiba datang? Tidak. Jawabannya pun sungguh sangat jelas.
Ibarat bunga-bunga indah yang tumbuh bermekaran. Mereka tidak akan tumbuh, jika tidak satupun yang datang memberinya sumber kehidupan. Mereka tidak akan tumbuh, jika pemberi sumber kehidupan telah menyerah akan dirinya. Sama halnya dengan mimpi. Tanpa usaha dan doa mimpi tidak akan dapat terwujud. Mungkin seseorang telah berusaha mati-matian untuk meraih mimpi itu. Namun, mengapa akhirnya tak sampai?
Pertanyaan berikutnya adalah sudahkah ia berdoa? Tuhan pemilik alam semesta lah yang paling berperan penting disini. Usaha? Sangat jelas pasti harus dilakukan. Doa? itulah yang seringkali dilupa. Apa gunanya jika Tuhan tak berkehendak? Doa bisa mengubah takdir seseorang. Namun takdir juga tak akan dapat diubah hanya dengan doa, melainkan juga usaha. Semoga bermanfaat...

Saturday, 21 January 2017

Mimpi



                “Bagaimana kondisi ibu? Masih ada yang terasa sakit? Kalau masih ada yang terasa sakit, ibu langsung saja datang  ke rumah sakit. Semoga lekas sembuh”
                Sudah 2 tahun aku bekerja menjadi seorang dokter di salah satu rumah sakit besar di Ibukota. Senang rasanya bisa menggapai cita-citaku menjadi seorang dokter. Setelah melewati hari yang panjang di rumah sakit, aku berniat untuk pergi mencari oksigen. Di tengah perjalanan kulihat beberapa anak jalanan sedang memperdebatkan mimpi seorang temannya. Melihatnya membuatku teringat masa laluku 10 tahun yang lalu, ketika orang tua dan sahabatku melarangku menggapai mimpiku.
***
“Benarkah? Kamu yakin bisa? Menurutku hal itu mustahil buat kamu. Kamu harus inget, siapa kita dan dimana kita berada. Mending kamu lupain aja deh!”
Kalimat itu terus saja bergema di telingaku. Sudah tiga hari aku terus terjaga sepanjang malam sejak terakhir kali kuceritakan mimpiku kepada Dewi, sahabatku. Dan itulah respon yang ku dapat. Mimpi? Apa itu? Mimpi bak suatu kata mustahil. Tidak hanya sahabatku, bahkan orang tuaku pun tidak yakin dengan yang namanya mimpi. “Sudahlah, Nak, kamu nurut saja sama bapakmu. Tugasmu mudah kok, tinggal bangun pagi, terus antar sarapan bapak ke sawah. Enak kan?” Itulah yang ibu ucapkan ketika  kuungkapkan keinginan terbesarku di masa depan. Dokter. Ya, aku ingin menjadi dokter. Tapi, mengapa? Mengapa aku tidak boleh punya mimpi? Memangnya cuma orang kaya saja yang bisa bermimpi? Apa anak seorang petani harus jadi petani juga? Begitu banyak pertanyaan berlalu-lalang di otakku. Tak ada seorangpun yang tahu akan perasaanku. Dan tak ada seorangpun yang memahamiku.
***
“Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa nanti siang langsung pulang, anterin makanan bapakmu. Jangan mampir-mampir lagi,” ucap ibu sebelum aku berangkat ke sekolah. Seringkali aku mampir ke perpustakaan kota sepulang sekolah. Bagiku perpustakaan adalah tempat terindah dalam hidupku. Bahkan aku tak peduli, mau hujan, badai, atau terik matahari pun akan kuterjang untuk pergi kesana. Tapi, kenapa? Ibu selalu saja melarangku pergi kesana. Ingin rasanya aku tidak memerdulikan nasehatnya lagi. Tetapi, bagaimana dengan bapak? Tidak tega juga rasanya kalau harus membiarkan bapak bekerja hingga kelaparan. Ah, entahlah..
Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan Dewi. Sejak pertemuan terakhirku waktu itu, aku jadi canggung ngobrol dengannya. “Mau berangkat juga, Wi? Barengan yuk,” ajakku. “Ra, kamu beneran yakin sama apa yang kamu ceritain ke aku waktu itu? Menurutku, mendingan kamu buang jauh-jauh harapanmu itu. Biaya jadi dokter itu mahal. Emangnya kamu nggak kasihan apa sama bapak dan ibumu?”
Wah, apa ini? Bukannya menjawab pertanyaanku, Dewi malah balik bertanya dan membuatku tersentak. Apa maksudnya? Apa maksud pertanyaannya ini? Dunia memang sulit. Para manusia golongan kelas atas tentunya mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tetapi, bagi kami yang berada di tingkat terendah piramida makanan, sangat sulit rasanya mendapatkan apa yang benar-benar kami inginkan. Tapi bukan berarti segalanya jadi mustahil. Tuhan akan selalu ada membantu para makhluknya.
Kutinggalkan Dewi yang terus saja berusaha memudarkan tekad bulatku untuk menjadi seorang dokter. Aku yakin aku pasti bisa. Aku tahu keyakinan itu penting, karena tanpanya tuhan bisa saja menarik kembali apa yang akan ia berikan.
Sesampainya aku di sekolah, tak sengaja aku melihat pamflet yang terpasang di mading sekolahku. Saat aku mendekat, jantungku benar-benar berdetak kencang, tak tahan rasanya melihat pengumuman yang tertera di pamflet tersebut. Lomba Kedokteran tingkat Nasional. Juara pertama: free pass kedokteran umum Universitas Indonesia. HTM Rp 100.000,-
“Lomba kedokteran? Ya, ini dia yang aku tunggu. Pokoknya aku harus coba,” pikirku. Beberapa saat aku merasa sangat senang karena aku akan mengikuti perlombaan tersebut. Namun, suara Dewi kembali mengagetkanku,”Kamu yakin, Ra mau ikutan? Tuh lihat berapa biayanya. Bisa kamu bayar segitu?” Dalam se per sekian detik pertanyaan tersebut mampu mengubah suasana hatiku. Kali ini ia memang benar, tidak mungkin aku mampu menanggungnya. Beli makan saja susah, apalagi harus membayar hal yang belum tentu hasilnya. Ibu pasti tidak mendukungku, pikirku dalam hati.
Aku berlari. Kutinggalkan Dewi yang masih terpaku di depan mading sekolah. Aku tak kuasa menahan air mata yang tidak bisa dibendung lagi. Aku terisak. Menangis. Mengapa? Mengapa selalu berakhir seperti ini? Mengapa hanya mereka yang berduit yang bisa dengan mudah meraih mimpinya? Ketika peluang besar di depan mata, mengapa justru seperti ini? pikirku dalam hati. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Ini adalah kesempatan terakhirku. Setelah lomba ini, kami para siswa kelas 12 tidak akan diijinkan lagi untuk mengikuti lomba. Lantas, bagaimana dengan nasibku?
***
Beberapa saat aku mulai berhenti percaya. Aku tidak yakin mimpiku akan menjadi kenyataan. Hilang sudah harapan terakhirku untuk ikut lomba kedokteran. Mungkin benar kata ibu, lebih baik aku bantu bapak. Namun, dalam hati kecilku ada sesuatu yang terasa mengganjal. Aku ingin tidak mempercayai mimpiku lagi. Tetapi, hatiku berkata lain. Aku ingin terus mempercayainya. Aku masih ingin menjadi seorang dokter. Tapi bagaimana aku bisa? Ada dua hal yang saling bertentangan bergejolak dalam jiwaku. Mungkin aku memang mendapat peringkat tinggi di sekolah, tetapi apa daya kalau nggak punya uang? Masih ada jalan. Ya, pasti ada. 2 bulan lagi ujian nasional. Aku harus fokus. Fokus.. Fokus..
Keesokan harinya ketika aku berada di kelas, guru BK memasuki kelasku. Mengapa beliau masuk ke kelasku?
“Hari ini saya akan mengumumkan satu pengumuman yang sangat penting. Ini benar-benar merupakan prestasi yang gemilang yang diraih oleh sekolah kita. Langsung saja, saya ucapkan selamat kepada Tiara karena telah mendapatkan suatu kehormatan untuk melanjutkan pendidikannya di kedokteran Universitas Indonesia. Sekali lagi saya ucapkan selamat” Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kedokteran? Bagaimana mungkin? Seketika aku merasa bagaikan air hujan masuk memenuhi mataku. Aku menangis. aku terisak. Aku tak kuasa menahannya lagi. Air mata bahagia, mimpi yang selama ini kudambakan akhirnya kini tercapai.

Tiga tahun lamanya aku terus belajar, aku terus bermimpi, aku terus percaya, bahwa suatu hari mimpiku akan tercapai. Dan kini, inilah akhirnya. Aku bisa meraih mimpiku. Jadi jangan pernah berhenti percaya dan yakin, karena aku tahu dengan keyakinanlah tuhan akan mengabulkan harapan kita walau tampak mustahil.

Secercah Harapan dikala Senja

Musim hujan tahun ini telah tiba. Awan yang semula putih berubah menjadi kehitam-hitaman. Gumpalan-gumpalan awan hitam dilangit, menandakan hujan lebat akan turun. Lalu lintas yang semula padat, kini berangsur-angsur menurun. Tentu saja, semua pengguna jalan berhenti mencari tempat yang teduh. Hujan lebat akan segera turun. Memang sudah tiga hari ini, hujan lebat selalu turun. Tanpa ada yang menyangka, kapan mereka akan datang.
Jalan Merpati adalah nama jalan di salah satu perkampungan kumuh . Disanalah aku tinggal, bersama ayah dan kedua adikku. Ibuku sudah lama meninggal. Dan sejak saat itulah, aku mulai sadar bahwa aku harus membantu beban ayahku.
“Yah, aku berangkat..”, kataku saat aku melihat ayah baru pulang sore itu. Dia terlihat sangat lelah, sampai aku tak tega melihatnya. Sudah tiga tahun ini, aku tidak bersekolah. Seharusnya, sekarang aku adalah siswa kelas dua SMA. Namun, apa boleh buat keadaan ekonomi keluargaku membuatku harus berhenti bersekolah. Awalnya sulit bagiku untuk melakukan hal ini. Namun, aku merasa bahwa adik-adikku lebih membutuhkannya dibandingan dengan aku. Bahkan, aku rela melakukan apa saja asalkan mereka dapat tetap menuntut ilmu.
“Kamu yakin akan berangkat sekarang, nak? Lihat, gumpalan awan hitam mulai menutupi langit yang cerah itu”, kata ayah saat melihatku akan pergi. “Tidak apa-apa, yah. Hmm.. sepertinya, hujan hari ini tidak akan lama. Aku yakin itu”, kataku meyakinkannya. “Baiklah kalau kamu memaksa, berhati-hatilah,nak”.”Terima kasih, yah. Aku pergi dulu. Nanti, kalau mereka mencariku, katakan saja aku ada di warung dekat sungai itu”.”Tentu saja. Nanti, ayah akan menyuruh kedua adikmu mengunjungimu”, kemudian aku beranjak pergi.
Sesampainya di pinggir sungai, aku segera mengeluarkan peralatan yang akan kugunakan. Ya, selama ini aku hanyalah seorang penghibur. Bersama kedua temanku, aku selalu melakukan pekerjaan ini setiap hari. Hanya berbekalkan beberapa lampu bekas, kaca, dan barang-barang bekas lainnya, aku mengubahnya menjadi sebuah pertunjukan yang lumayan menarik. Suasana yang remang-remang disekitar sungai juga menambah ketertarikan pada hiburanku ini.
“Hai, Dan. Maaf ya aku terlambat. Tadi ayah sempat tidak mengijinkanku pergi sebab awan yang sangat gelap ini. Hmm.. semoga saja tidak jadi hujan. Kalau hujan, kita tidak akan dapat apa-apa hari ini”, kataku saat aku datang. “Ya, kamu benar sekali. Kita juga sudah tau kan, kalau tempat ini sangat sepi waktu hujan”, sahut Danny salah satu temanku. “Ya, itu memang betul. Apalagi, kalau hujan suasananya ngeri banget. Hii.. pokoknya kalau hujan kita pulang saja. Gimana?”, kata Devi, sahabatku yang lainnya.
“Ah.. kalian jangan putus asa gitu, dong. Kita berdoa aja, semoga hujan tidak jadi turun. Dengan begitu, kita bisa mendapat penghasilan. Siapa tau kan, bisa dapat banyak”.”Hmm.. kan aku cuma menduga kemungkinan yang terjadi” sela Danny yang mulai gelisah akan datangnya hujan.
Ternyata dugaan mereka benar. Tak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Warung pinggir sungai yang semula ramai, berangsur-angsur menjadi sepi. Para pembeli beranjak pergi meninggalkan warung itu entah kemana. Hujan disertai angin kencang dan petir menambah kengerian suasana sekitar sungai itu. Aku dan kedua temanku kebingungan mencari tempat untuk berteduh. Untungnya, ibu pemilik warung itu sangat baik. Dia menawarkan kepada kami untuk berteduh di warungnya hingga hujan reda.
“Hei, Nak. Kemarilah.. Berteduhlah disini, hujannya sangat lebat. Pepohonan itu tidak akan melindungi kalian tetap kering”, katanya sambil mendatangi kami bertiga dengan membawa sebuah payung berwarna merah muda.
“Wah, terima kasih banyak, Bu. Kami akan tinggal disini sementara waktu hingga hujan ini reda. Setelah itu, kami akan pulang.”, jawabku.
“Oh, baiklah, Nak. Jangan sungkan – sungkan, mari masuk. Kalau begitu ibu buatkan teh hangat dulu, ya.. Kalian tunggu disini saja”, kemudian ibu itu pergi sambil menunjukkan dua buah kursi panjang yang terbuat dari kayu. Kursi itu terlihat sangat kokoh, walaupun warnanya mulai memudar. Setelah beberapa saat, ibu itu kembali dengan membawa tiga cangkir teh hangat ditangannya.
“Minumlah, teh ini bisa menghilangkan rasa dingin di tubuh kalian”
“Terimakasih banyak, Bu..”
“Hmm.. Kalau boleh tahu, kenapa kalian ada disekitar sini di malam hari seperti ini? Seharusnya kalian belajar, besok kan hari Senin”, kata ibu pemilik warung itu.
“Sebenarnya, kami sudah tidak bersekolah lagi. Sejak tiga tahun yang lalu, saya sudah tidak bersekolah. kalau saja ada biaya, sebenarnya saya masih ingin bersekolah lagi. Kedua teman saya ini pun juga bernasib sama seperti saya”, jawabku. Kemudian, ibu itu ingin aku bercerita lebih banyak mengenai kehidupanku. Akhirnya, aku menceritakannya.
“Oh, kasihan sekali kalian. Ibu ingin membantu, tapi sayang ibu tidak bisa. Biaya sekolah sekarang ini mahal. Dan ibu hanya mendapatkan uang dari warung kecil ini”, kata ibu itu sambil menitikkan air matanya. Sepertinya, dia terharu mendengarkan ceritaku.
“Ibu sudah sangat baik, bersedia memberikan minum dan tempat berteduh kepada kami bertiga. Kalau diijinkan, besok kami akan datang kesini lagi. Kami akan membuat sebuah pertunjukan didekat sungai depan itu”. “Oh, tentu saja. Datanglah, ibu menunggu kalian”.”Terimakasih, Bu..”
Hujan mulai reda, dan akhirnya berhenti. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, aku dan kedua temanku pamit pulang. Yah, hari ini memang bukan hari yang baik. Aku sama sekali tidak mendapatkan selembar uangpun. Aku bingung, apa yang harus kuberikan pada kedua adikku nanti?
***
Keesokan harinya, tepatnya pukul 4 sore, hujan turun sangat lebat. Kini aku benar – benar kebingungan. Sudah dua hari hujan terus turun. Kalau hujan tidak berhenti, aku tidak akan bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Tapi, bagaimanapun caranya aku harus pergi memcari uang bersama kedua temanku itu. Dan kali ini, sungai itu begitu sepi, hening. Tak ada satupun orang yang datang, karena sore itu hujan turun sangat lebat.
“Hmm.. sepertinya, hari ini aku akan rugi. Pasti, tidak akan ada pemasukan sama sekali. Pengunjung? tidak ada sama sekali. Lebih baik aku pulang dan membantu adik -adikku  mengerjakan tugas. Meskipun, aku nggak tahu, aku bisa atau tidak”, akhirnya aku beranjak pergi.
Sesampainya dirumah, kedua adikku langsung menyambutku. Tak seperti biasanya, mereka menyambutku dengan wajah sedikit murung. “Kalian kenapa? Sakit? Atau ada banyak tugas yang belum selesai?”, tanyaku penasaran. Lalu, mereka menjawab pertanyaanku itu,”Eh..Anu..Hmm.. Kak, Senin depan adalah hari terakhir kita harus melunasi SPP. Kalau tidak…” Belum selesai mereka menjelaskan. Tanpa kusadari, aku menyela pembicaraan ini,”Kalau tidak? Kenapa? Apa yang akan terjadi?”. Aku mulai merasa kebingungan. Semoga saja hal buruk tidak akan terjadi. “Kalau tidak.. Kepala sekolah akan mengeluarkan kita, Kak”.
Mendengar kata – kata itu tubuhku langsung lemas, tak berdaya. Aku tidak mungkin bisa membayarnya kalau aku tidak bekerja. Bagaimanapun caranya, aku bertekad akan mencari uang untuk membiayai SPP mereka. Kalau sungai memang sepi, maka aku akan pergi ketempat lain, dimana ribuan orang akan berkumpul disana, menyaksikan pertunjukan yang kubuat. Itulah tekadku, dan aku akan mulai melakukannya besok. Aku tak ingin, mereka memiliki nasib yang sama sepertiku.
“Ah, kalian tenang saja. Aku ada banyak uang kok, nggak perlu bingung seperti itu. Lebih baik, sekarang kalian istirahat. Besok kalian harus bangun pagi”.”Baiklah, Kak..”, jawabnya dengan serentak.
***
Hari berganti hari, sudah hari ketiga hujan terus turun dengan lebatnya. Tiga malam ini, aku melakukan pertunjukanku di tempat yang berbeda – beda. Sangat sulit, mencari penonton yang banyak. Musim hujan kali ini membuatku merasa sedikit putus asa. Tapi, aku harus menjauhkan rasa putus asa itu dari diriku sejauh mungkin.
“Ah, aku tidak boleh putus asa. Seharusnya aku bisa memberikan semangat untuk kedua temanku itu. Kalau mereka sedang putus asa, harusnya aku yang menghilangkan rasa putus asa itu, bukannya ikut – ikutan. Ayo.. Semangat, aku pasti bisa”, pikirku dalam hati.
Tiba – tiba saat aku sedang melakukan pertunjukanku, sebuah mobil yang melintas disebelahku melewati kubangan lumpur yang cukup besar sehingga, menyemprotkan lumpur ke bajuku. Lalu mobil itupun berhenti. Seorang wanita muda keluar dengan membawa sebuah payung dan dia meminta maaf kepadaku,”Ah.. Maafkan aku, Dik. Aku sama sekali tidak melihatmu, aku tidak sengaja. Oh, bajumu sangat kotor. Aku..Aku benar – benar menyesal”. “Sudahlah tidak apa – apa. Hmm.. lebih baik anda pulang saja. Hari sudah malam”, jawabku. Namun ternyata, wanita itu masih merasa bersalah, dan dia meminta maaf lagi kepadaku. Dan setelah itu, dia ingin mengetahui apa yang kulakukan disini bersama kedua temanu itu.
“Aku benar – benar minta maaf. Sekali lagi, tolong maafkan aku”
“Bukannya aku sudah bilang kalau anda sudah kumaafkan. Sudahlah..”, jawabku.
“Oh, terimakasih ya.. Hmm, kalau boleh tahu ada apa ini? Kenapa banyak orang berkumpul disini?”
“Eeh..”, kemudian aku menjelaskan tentang pekerjaanku ini. “Sebenarnya aku adalah seorang penghibur. Disini aku sedang melakukan pertunjukanku. Entah bakat atau apa, aku selalu senang melakukannya dari dulu. Banyak barang – barang yang sudah aku coba untuk membuat sebuah pertunjukan. Apa anda ingin melihat pertunjukanku ini? Tapi, anda harus membayar, seikhlasnya.”
Setelah mendengar penjelasanku itu, dia mengangguk – angguk. Namun, saat ia mendengar kata seikhlasnya, ia langsung kaget. “Apa? Seikhlasnya? Seharusnya, kamu memberikan harga yang pasti untuk mereka yang melihat pertunjukanmu ini”
“Mereka tidak akan mau melihatnya, ini hanya pertunjukan biasa, lihat saja barang yang kupakai, semua dari barang bekas. Biar kutunjukkan salah satu atraksiku”, kemudian aku mulai beraksi bersama kedua temanku dihadapan wanita itu. Dan tiba – tiba..
“Wah, kalian benar – benar hebat. Hmm, kita belum berkenalan ya.. Namaku Dewi. Sebenarnya aku disini sedang mencari penghibur untuk acaraku besok dan aku mau kalian datang untuk mengisi acara itu. Aku akan memberikan gaji besar untuk kalian. Dan, aku akan mempromosikan kalian bertiga agar bisa menjadi terkenal, usaha kalian sungguh luar biasa.”
“Apa? Oh, terimakasih banyak. Kami benar – benar tidak  menyangka, usaha kami selama ini memberikan hasil yang cukup memuaskan. Kami sangat senang kalau penonton yang melihat menyukai penampilan kami. Terimakasih juga karena anda sudah mau memberikan peluang besar bagi kami..”
“Ya, sama – sama”
Akhirnya, aku dan kedua temanku berhasil mencapai apa yang kami inginkan, yaitu bisa menjadi orang yang sukses. Dan kini, kami telah bersekolah kembali. Memang benar, usaha yang dilakukan dengan sungguh – sungguh akan menghasilkan hasil yang maksimal.
Musim hujan mulai berhenti, berganti menjadi musim kemarau. Walaupun demikian, musim hujan kini bukanlah masalah lagi buatku. Kini aku telah siap jika musim hujan datang kembali dan aku juga telah menyadari bahwa keadaan alam bukanlah suatu penghalang untuk tetap berusaha dan berkarya.