Sunday, 24 July 2016

Mentari

Sang mentari mulai menampakkan diri. Menyambut hari dengan kehangatannya. Benar-benar pagi yang indah. Burung-burung mulai bersiul. Meskipun embun pagi masih menyisakan hawa dingin, namun sama sekali tak mematahkan semangat Mentari untuk menjalani hari.
Mentari, adalah seorang putri dari salah satu keluarga ternama. Dia lahir dengan takdir yang baik, cantik, pintar, baik, dan memiliki banyak teman dan sahabat. Hampir semua orang di sekolah mengenalnya dengan baik. Dia pandai berkomunikasi dengan orang baru di sekelilingnya, siapapun itu. Selain itu, Mentari memiliki seorang sahabat, ialah Sera. Sahabat sejak mereka masih duduk di bangku SD. Mereka sangat akrab, kemanapun mereka pergi, selalu bersama.
“Hai, Ser. Lagi apa?”, tanya Mentari yang baru sampai di sekolahnya. “Eh, kamu Ri. Tumben agak telat”. “Iya nih, jalannya macet, Ser. O iya aku dengar nanti bakalan ada murid baru ya. Dia masuk kelas kita?”. “Iya, tapi katanya dia cuma anak orang miskin, Ri”, jawab Sera. “Lho, emangnya kenapa, Ser?”. “Udah lupain aja, sini duduk”.
Mendengar perkataan Sera, Mentari menjadi bingung. Menurutnya, siapapun murid baru itu, dia tetap harus disambut sebagaimana mestinya. Derap kaki mulai terdengar dari kejauhan. Mentari mengenali suara itu, tentu saja itu gurunya yang akan memasuki kelas.
“Selamat pagi, Bu”, sapa Mentari. Sang guru datang dengan seorang siswi, cantik, tinggi, namun sedikit lusuh. “Silakan kau perkenalkan dirimu”.
“Hai, namaku Surya. Aku harap kalian mau berteman bersamaku. Terima kasih”. “Baiklah, Surya kau bisa duduk. Mari kita mulai pelajaran hari ini”, kata sang guru.
**
Saat istirahat berlangsung, Mentari mulai merasakan keanehan yang timbul di sekolahnya. Ia sama sekali tidak melihat siswi baru itu saat ia berada di kantin.
“Ser, aku ke kelas dulu ya. Nanti aku balik lagi”, kata Mentari pada Sera di kantin.
Sesampainya di kelas, ia melihat temannya itu sedang duduk sendiri. Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. “Hai, aku Mentari”. “Hai, aku Surya”. “Kamu nggak lapar? Kantin, yuk”, ajak Mentari. Namun sayang, ajakan Mentari tersebut ditolaknya. Meskipun Mentari sudah mengajaknya berulang kali, namun ia tetap tidak mau mengikuti Mentari. Sebenarnya, apa yang terjadi? Akhirnya Mentari memutuskan untuk kembali ke kantin tanpa Surya. “Ya sudah , aku ke kantin dulu, ya. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja.”. “Terimakasih, Mentari”.
**
Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Sudah 3 minggu ini, Mentari terus melihat Surya yang selalu termenung sendiri di kelasnya tanpa mengetahui sebab yang jelas. Akhirnya, Mentari memberanikan diri untuk mendekatinya lagi, dan mengajaknya bicara.
“Sur, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa, Tar?”
“Kamu pasti punya masalah sama anak kelas ini. Iya kan? Soalnya, kamu nggak pernah sama sekali ngobrol sama kita – kita. Kenapa, Sur?”, tanya Mentari penasaran. Karena Surya semakin merasa terdesak, akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Dan setelah cerita itu berakhir, Mentari benar – benar kaget. Ia sama sekali tidak percaya bahwa sahabat terbaiknya melakukan suatu kesalahan besar.
“Apa? Jadi selama ini Sera dan teman – temannya mengejekmu hanya karena kamu bukan anak orang kaya? Kenapa kamu tidak bilang? Menurutku itu bukanlah suatu masalah, karena siapapun kamu, kamu adalah bagian dari kita. Kenapa dia seperti itu?”
“Tari, maafin aku ya. Selama ini aku pikir kamu adalah bagian dari mereka yang mau mengolok-olok aku. Tapi, ternyata kamu orang yang baik. Tolong, jangan marah ke Sera. Aku nggak mau membuat persahabatan kalian berantakan. Toh, semua itu benar adanya.”, kata Surya sambil menahan air mata.
“Dia salah, Sur. Aku harus menasehatinya. Kamu jangan khawatir”.
“Tapi, ini udah terlambat, masalah ini nggak akan bisa diselesaikan, Tar. Karena, semua yang mereka katakan juga benar”.
“Tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Semua masalah pasti punya solusi”, jawab Mentari tegas.
Tanpa disadari, sejak tadi ada Sera menguping pembicaraan mereka. Ia bersembunyi di balik pintu. Dan ketika Mentari beranjak keluar, iapun muncul.
“Ri, kalau kamu masih bersama orang miskin ini, jangan panggil aku sahabat lagi”, lalu Sera beranjak pergi. Mentari masih terdiam, terpaku ditempat ia berdiri. Ia merasa bingung apa yang dilakukannya. Ia sayang sahabatnya, namun ia juga tidak ingin jika sahabatnya melakukan kesalahan dan menyakiti temannya itu.
Sepulang sekolah, Mentari bahkan masih belum berbicara sama sekali dengan sahabatnya. Ia tahu, Sera sangat marah padanya. Mentari menunggu Sera di depan gerbang sekolah. Namun, ia diabaikan.
Tiba – tiba, sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi melintas ketika Sera menyebrang. “Seraaa, awaaaasss!!!”, teriakan Mentari tidak terdengar oleh Sera. Namun, apa yang terjadi? Justru bukan Sera yang tertabrak, melainkan Surya. Ia berlari menyelamatkan nyawa Sera, sehingga ia yang terserempet kendaraan itu. “Surya??”
“Aduh, dasar motor bodoh. Loh, siapa yang menyelamatkan aku tadi?”, Sera terlihat kebingungan. Lalu, ekspresinya langsung berubah, ketika ia melihat seorang yang sedang terkapar di jalanan. “Surya? Tapi kenapa? Suryaaa!!”. Ia berlari menuju tempat Surya berada. Beberapa menit kemudian, Surya telah dibawa ambulan menuju rumah sakit. Begitu pula Sera yang ikut diperiksa di rumah sakit.
“Ser, kamu nggak papa, kan?”, tanya Mentari saat melihat Sera di rumah sakit.
“Ri? Ri, maafin aku. Aku sadar selama ini aku berbuat salah. Ternyata orang yang selama ini aku benci, justru dia yang menyelamatkan nyawaku. Entah apa jadinya kalau Surya nggak ada disana. Lalu.. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Surya?”
“Ser, lebih baik kita berdoa untuk Surya. Aku yakin dia pasti tidak apa – apa. Dan, aku mohon setelah ini, kamu baikan ya sama Surya”, pinta Mentari.
“Iya, Ri. Aku janji”
Dokter keluar dari ruangan Surya. Dia mengatakan bahwa Surya tidak apa – apa, dan tidak ada luka yang serius. Sera terlihat sangat lega dengan hal tersebut.
**
1 minggu kemudian, Surya telah kembali sehat. Ia sudah kembali masuk sekolah. Saat Surya memasuki kelas, ia sangat terperanjat melihat Sera dan Mentari ada di bangkunya.
“Surya, aku benar – benar minta maaf. Selama ini, aku melakukan banyak kesalahan. Kamu mau maafin aku kan? Aku janji, kita akan berteman baik selamanya”, kata Sera.
“Ser, aku udah maafin kamu kok. Lagipula, semua yang kamu katakan selama ini kan benar?”.
“Nggak, Sur. Semua itu salah. Meskipun kamu tidak terlahir di keluarga yang mampu seperti kami, tapi kamu orang yang sangat baik. Kalau bukan kamu, pasti aku sudah dibiarkan mati di jalanan. Jadi, maafin aku ya, Sur”.
“Iya, Ser.”, kemudian Surya beranjak ke tempat Mentari berada. “Terimakasih ya, Tar. Ternyata semua yang kau katakan itu benar. Tidak ada masalah yang tak terselesaikan”
“Tentu saja. Sekarang kamu adalah bagian dari kita. Hmm, kantin yuk!”
“Ayoo, udah lapar banget, nih. Hari ini aku yang traktir kalian, karena kalian Mentari dan Surya, adalah matahari yang selalu menyinariku dimanapun aku berada”, kata Sera kepada keduanya.
Akhirnya, mereka bertiga menjadi sahabat selamanya. Dan benar apa yang dikatakan Mentari bahwa,”Tak ada masalah yang tak dapat diselesaikan, karena semua masalah pasti memiliki solusi”.
TAMAT