Skip to main content

Tentang Buku dan Dunianya

Dulu, ada seorang anak yang berusia sekitar 4 atau 5 tahun. Di rumah kecilnya, ada sebuah lemari besar yang diletakkan di ruang keluarga. Awalnya lemari itu untuk menyimpan barang-barang pajangan milik nenek, tapi lama kelamaan berubah menjadi rak buku yang berisi puluhan buku cerita anak. Setiap buku memiliki nomor dan tanggal pembelian dan tentu saja dibubuhi sebuah tanda tangan (yang berubah-ubah di setiap buku). Nah, milik siapakah buku-buku ini? Ya tentu saja miliknya. 

Ada yang bertanya, "kok dia bisa suka baca sih?" Hm, iya mungkin karena terbiasa. Sejak kecil ibunya selalu membacakan cerita sebelum tidur. Sebelum anak itu lancar membaca, buku-buku fabel bergambar itu selalu dibacakan, lalu dia akan membuka dan melihat-lihat ilustrasinya. Sampai pada waktu dimana dia menjadi seorang anak kecil yang bisa membaca sendiri, buku itu menjadi teman setiap malam. Dulu, sekali setiap bulan anak ini selalu diajak pergi ke toko buku di sebuah mall (yang sebenarnya pada waktu itu adalah satu-satunya mall yang ada) di jantung Kota K. Awalnya orang tuanya membebaskannya untuk memilih dan mengambil buku cerita yang diinginkan, tapi mungkin karena lama kelamaan harga buku semakin naik maka ibunya memberikan 'jatah' tiga buku setiap bulan. Dia mencintai bukubahkan sering ingin membawa pulang lebih dari jatah buku yang diberikan orang tuanya. 

Buku anak itu sebenarnya hanyalah buku biasa, bukan buku yang fancy seperti buku anak-anak zaman sekarang, yang sudah menggunakan hard cover dengan kualitas ilustrasi yang super bagus. Buku yang dijual di toko itu tebalnya hanya sekitar 9-11 halaman dengan ilustrasi hitam putih dan di bagian atas (atau bawahnya) terdapat teks cerita. Tapi, mungkin ini juga yang menarik perhatiannya. Ilustrasi hitam putih itu menjadi berwarna ditangannya. Iya, dia juga suka coret-coret. 

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun mulai berganti, sudah puluhan buku tersimpan di lemari besar itu. Anak kecil itu kini menginjak sekolah dasar. Setiap libur semester, ada satu kegiatan yang selalu dilakukan di keluarga kecilnya, yaitu liburan ke luar kota. Terkadang, ia akan berlibur berdua dengan orang tuanya, terkadang sepupu dan tantenya akan ikut nebeng liburan bersama. Seru! Itu yang dikatakan anak kecil itu. Memang sepertinya membuat memori dengan anak-anak itu sangat penting, karena mereka tidak akan lupa, bukan?

Kota yang dituju sebenarnya tidak terlalu jauh, masih di dalam satu provinsi yang sama. Terkadang, mereka berlibur ke Kota M, Kota S, Kota T, atau Kabupaten M. Meskipun bukan tempat yang jauh dan liburan biasanya hanya dilakukan one day trip, tapi memori itu selalu berkesan dan masih tersimpan dalam ingatan anak ini sekarang. Mengejar bus terakhir, membeli kelinci yang pintu kandangnya ternyata terbuka (dan baru disadari ketika sudah sampai tujuan), masuk ke kandang ular (tidak sengaja sih), dan lain sebagainya. Semua memori itu masih tersimpan rapi di ingatannya. 

Kembali ke topik buku. Semakin bertambahnya usia, buku cergam sudah lagi tidak menarik untuknya. Pada suatu pagi, seorang kerabat datang dengan membawa dua buah buku komik yang cukup tebal. Anak itu kegirangan. Ia langsung membukanya dan mencoba membaca buku baru itu. Tapi, kok sulit? Kenapa ceritanya tidak jelas? Oh, ternyata buku ini dibaca dari kanan ke kiri, ada ya buku yang seperti itu. Begitu pikirnya. Ia baru mengenal buku yang bisa dibaca dari kanan ke kiri (selain Al Qur'an). Tak lama kemudian, ia pun sudah terlarut dalam dunia fiksi yang dibacanya. 

Menginjak masa remaja, ia mulai berkenalan dengan novel. Di SMA ia menamatkan keempat novel Sherlock Holmes beserta kumpulan cerita pendeknyafavoritnya A Study in Scarlet. Di tahun-tahun itu harga buku sudah jauh berbeda dengan saat ia masih kecil. Internet mulai marak digunakan dan buku-buku bajakan banyak bertebaran dan bisa diunduh kapan saja. "Hobi membaca itu mahal ya", pikirnya. Karena keterbatasan yang ia miliki, mau tidak mau buku yang ada di mesin pencari itu menjadi pilihannya. Lalu ia pun bertekad, suatu hari nanti aku akan membeli buku dengan uang yang kuhasilkan dan siapapun boleh meminjam (asalkan dikembalikan). Begitulah ia kemudian banyak menghabiskan waktunya untuk membaca (selain bermain). 

Di waktu sekarang, anak itu sudah menjadi orang dewasa yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia melanjutkan hobinya dan ternyata ia bisa mewujudkan impiannya untuk membeli buku-buku yang ia inginkan. Bahkan sekarang ia memiliki sebuah alat bernama kindle yang sangat ia sukai. Di alat itu ia bisa membaca seluruh buku yang ada di dunia. Alat ini juga memiliki fitur word wise yang akan menunjukkan padanan kata lain dari kata-kata yang sulit. Menarik sekali. 

Suatu hari nanti, anak ini berkata bahwa dia ingin membantu orang lain dengan buku-buku yang pernah ia baca. Ia ingin anak-anak lain juga bisa menikmati hadirnya sebuah buku di hidup mereka. Seperti yang dilakukan orang tuanya dahulu, buku fabel yang jumlahnya puluhan itu kini sudah bertebaran di rumah orang lain yang lebih membutuhkan. Mereka tidak mendapatkan kesempatan maupun kemampuan untuk mengenalkan hal tersebut ke anak-anak mereka, padahal seru sekali loh.  Dari sebuah buku, ia bisa mengetahui di belahan bumi lain masih terdapat perang revolusi yang terjadi hingga saat ini. Di belahan bumi yang lainnya lagi, di sebuah negara maju, ada sebuah jalan yang terletak di tepi laut yang penuh dengan toko buku. 

Buku fiksi atau non fiksi semuanya layak untuk dibaca. Menurutnya, buku fiksi lebih menarik karena ia bisa benar-benar masuk ke dalam dunia lain yang ada di dalamnya. Imajinasinya bisa terbang kemana saja menyusuri dunia baru yang ia temukan. Ketika membaca fiksi sejarah, ia bisa ikut merasakan kepedihan yang terjadi saat itu. Ketika membaca genre fantasi, ia bisa berkelana ke luar angkasa, terbang bersama bus damri yang bisa berjalan di atas awan. Dalam cerita fiksi, ia menemukan dunia tanpa batas—dan itulah alasan ia tak pernah berhenti membaca.




Comments

Popular posts from this blog

Cerita dari Mahakam: Mangu, Pesut, dan Senja

     Pagi itu langit terlihat sedikit mendung. Di dalam kamar, aku mengemasi barang-barang; memasukkan beberapa pasang baju dan dibalik pintu sepasang sandal tampak setia menunggu. Rencananya siang itu kami akan pergi ke Desa Pela. Ya, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa ini membentang di sepanjang Sungai Mahakam, habitat alami pesut mahakam yang semakin langka.      Sebelum melanjutkan cerita perjalanan, izinkan aku sedikit menjelaskan tentang mamalia unik ini. Pesut Mahakam ( Orcaella brevirostris) merupakan lumba-lumba air tawar yang hidup di sungai tropis. Sejak tahun 2000, pesut mahakam berstatus critically endangered karena populasi pesut dewasa berjumlah kurang dari 50 individu. Pada awalnya pesut mahakam banyak ditemukan di sekitar Muara Pahu-Penyinggahan, Kabupaten Kutai Barat, namun mereka mulai bermigrasi ke daerah Muara Muntai, Pela, dan Muara Kaman akibat meningkatnya lalu lintas ponton batu bara serta alih fungsi la...

Mengenal Manusia

  Manusia. Satu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga, salah satu jenis makhluk hidup yang menempati planet nomor tiga di susunan tata surya Galaksi Bimasakti. Konon katanya manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya karena ia begitu dicintai oleh Sang Pencipta. Bahkan, di antara semua makhluk yang hidup di planet ini, hanya manusia yang diberikan akal dan perasaan olehNya.  Karena memiliki akal dan perasaan, makhluk ini pun menjadi beraneka ragam sifat dan karakternya. Ada yang hidup menjadi orang baik, ada yang menjadi orang jahat, ada yang sangat jahat (bahkan iblis yang bertugas menghasut manusia pun minder dengannya), dan lain-lain. Mengenal manusia juga tidak sesederhana   itu, hati manusia yang tersembunyi di dalam rongga perut sebelah kanannya tidak bisa dilihat langsung, makanya sulit sekali menebak perasaan makhluk ini. Begitu pula apa yang ada di dalam pikirannya. Otak dilindungi oleh suatu kerangka keras bernama tengkorak, kalau tidak dibuka, apa i...

Sedikit Review Buku 'Semua Ikan di Langit'

Beberapa waktu yang lalu tepatnya di 7 Juli aku membeli sebuah novel yang berjudul "Semua Ikan di Langit". Buku ini aku beli karena cover -nya yang menarik dan ada seseorang yang me- review bukunya dan dia mengatakan bahwa bukunya bagus dan mengandung banyak pesan untuk pembaca. Selain itu, ya karena lagi ingin ganti genre saja. Nah, dari situ akhirnya aku check out bukunya di Gramedia Shopee (sekalian waktu promo kan).  Setelah sekitar 3 minggu, akhirnya buku dengan tebal 216 halaman ini berhasil kuselesaikan. Awalnya, aku kira novel ini hanyalah fantasi biasa—ceritanya seru dan bisa selesai dalam beberapa hari. Tapi ternyata, aku salah. Menurutku cerita dalam novel ini tidak bisa diselesaikan dalam beberapa hari, perlu dibaca dengan pelan, baru kita bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis.  Berkeliling bersama Beliau  Menceritakan seorang Bus Damri yang diajak berkeliling angkasa bersama seorang anak laki-laki yang kelak dipanggil 'Beliau'. Nah, siapa...