Skip to main content

Ternyata Motivasi itu Lahir dari….

Air Conditioner (AC) merupakan bagian penting dalam hidup warga Kota S. Eh, tunggu dulu, baru mulai kok tiba-tiba bahas AC? Dilihat dari judulnya harusnya isinya motivasi dan bagaimana mendapatkan motivasi itu. Kok malah AC? Tenang-tenang, benda satu ini nantinya akan menjadi kunci cerita yang sepertinya menarik untuk diceritakan. Tetapi, sebelum membahas soal AC maupun motivasi, kita flashback terlebih dahulu ke awal mula kisah ini terjadi. 

Beberapa minggu terakhir gelombang panas sepertinya sedang menghampiri Kota S. Tidak melebih-lebihkan, tetapi panasnya memang seperti ada lima matahari di atas kepala. Di akhir minggu ketiga bulan April, seperti biasa aku dan anak-anak yang itu lagi itu lagi, menghabiskan waktu di tepian sambil menikmati segelas matcha dan sepotong burger yang katanya enak. Hari semakin malam, salah satu yang menjadi topik bahasan kita adalah tentang golongan darah. Konon katanya golongan darah O adalah yg paling manis, jadi disukai nyamuk deh. Betul juga, malam itu kami yg bergolongan darah O hampir semua menjadi santapan lezat nyamuk-nyamuk sungai. Sudah seperti donor darah. 

Singkat cerita, hari menunjukkan pukul 10 malam dan kami mengakhiri pertemuan singkat itu. Keesokan paginya, loh kok tenggorokanku tidak enak, apa aku kemarin menelan nyamuk? Ah, canda. Asumsi pertama, mungkin karena tadi malam minum es setelah sekian lama tidak menenggak es sedikitpun. Asumsi kedua, mungkin karena cuaca di luar sedang panas panasnya. Yasudah, akhirnya aku biarkan saja dan melanjutkan aktivitas seperti biasa. 

Hari Senin berlalu seperti biasa, meskipun ada rasa-rasa tidak enak menyelimuti tenggorokan. Aku pikir rasa tidak enaknya akan cepat hilang begitu saja, tapi ternyata aku salah. Keesokan  harinya sepulang bekerja, hawa dingin tiba-tiba menyelimuti sampai menusuk ke tulang. Aku belum sempat mengganti pakaian dan langsung tidur meringkuk di dalam selimut tebal yang harusnya orang normal akan kepanasan kalau memakainya di Kota S dan di ruangan tanpa AC. Aneh. Cuaca di luar sedang panas-panasnya tapi malah meringkuk di dalam selimut. Malam harinya badan mulai panas dan akhirnya memutuskan untuk menelan paracetamol. Ekspektasinya, ya besok sudah sembuh. Paginya, karena masih agak kurang enak badan sepertinya lebih baik cuti saja setengah hari. Dan betul saja, di siang hari sudah merasa lebih sehat. 

Kira-kira sebelum setengah satu siang aku memulai aktivitas dengan pergi ke kantor, tapi karena masih lelah, siang itu seorang bapak ojol menemani perjalananku. Bukan karena malas membawa motor, tapi sepertinya lebih baik naik grabcar agar tidak terkena angin di perjalanan (meskipun perjalanan hanya kurang dari sepuluh menit saja sih). Haripun berlalu dan malam pun tiba. 

Astaga. Di malam hari bukannya makin sehat tapi tubuh ini sepertinya protes, kenapa kok diajak kerja padahal belum sehat? Malam itu aku tidak ada energi sama sekali, bahkan untuk turun ke lantai satu dan mengambil paket dari klikindomaret saja tidak bisa. Seorang mba-mba kosan meminjamkan sebuah termometer, dan ketika aku cek suhunya, buset! 39.7 celcius! Tinggi sekali! Pantas saja malam itu aku merasa sangat panas dan rasanya malam berlalu sangat panjang. Semakin malam, suhunya masih belum menurun dan sempat mencapai 40C, wow! 

Malam itu meskipun sudah minum obat, tapi rasa kantuk belum juga menghampiri. Susah tidur padahal seharusnya istirahat lebih cepat kan lebih baik. Anehnya, kenapa ya setiap kali demam rasanya kepala ini sangat ramai? Hal-hal yang tidak perlu dan sebenarnya tidak kepikiran juga, tiba-tiba terpikirkan. Aneh juga. 

Singkat cerita, keesokan paginya demam mulai turun dan akhirnya aku bisa beranjak ke klinik untuk mencari obat. Meskipun demam sudah turun, tubuh ini rasanya masih lemas sekali sampai beberapa hari berikutnya. Entah, mungkin karena lapar atau memang begitu ya? (fyi, selama demam tinggi semua makanan rasanya tidak enak, dan agak susah menelan makanan karena sakit tenggorokan juga). 

Karena sakit beberapa hari, kondisi kamar terlihat sangat memprihatinkan. Sudah seperti gudang. Barang berserakan, belum menyuci baju, pokoknya benar-benar seperti gudang. Tidak ada motivasi untuk beberes karena ya memang sedang lemas-lemasnya. Tiba-tiba, sebuah chat masuk,"dek, nanti sore ada tukang AC ya dek mau pasang AC. Habis ashar datangnya". Lah, kok tiba-tiba sekali? Chat ibu kos itu bagai petir di siang bolong. Masa iya bapak AC mau masuk kamar dengan kondisi mengenaskan seperti ini, malu dong. Akhirnya dengan sedikit energi yang terkumpul, siang itu aku membereskan kamar. Tidak benar-benar beres, tapi yang penting sudah tidak mengerikan kalau ada orang datang berkunjung. 

Hari beranjak sore, dhuhur berlalu, lalu datang waktu ashar. Bapak AC tidak kunjung datang sampai maghrib pun datang. Aneh, apa tidak jadi ya? Begitu pikirku. Harusnya kalau tidak jadi datang sore, bisa memberikan kabar. Jadi aku bisa beristirahat dan tidak perlu menanti. Ternyata setelah maghrib, ada yang mengetok pintu. Dan ketika dibuka, ada mas-mas AC di depan pintu! Aelah, bisa-bisanya datang habis maghrib menjelang isya. Inikan sudah waktunya istirahat. 

Malam itu cuaca sedang sangat panas, tidak ada angin berhembus, kalaupun ada angin yg berhembus itu juga membawa hawa panas. Sambil menunggu mas-mas AC, karena malas berganti pakaian, aku memakai mukena hitam dan menunggu di kursi goyang di tempat jemuran rumah. Agak mengerikan sebenarnya kalau diingat-ingat. Pemasangan AC berlalu cukup lama sampai hampir pukul 10 malam. Setelah para mas-mas pemasang AC pergi, aku kembali ke kamar. 

Wah, dingin. Ketika aku masuk ke kamar, segar sekali rasanya. Selain itu, aku kagum karena para tukang AC tadi mengembalikan barang ke tempat semula. Meja kecil dikembalikan ke dekat jendela, rak piring juga dikembalikan, rapi sekali. Tapi, tunggu dulu. Bentar bentar. Kaget sekali, di atas kasur ada tumpukan korden berdebu! Ah, kesal sekali. Malam itu akhirnya motivasi itu datang kembali, aku mengganti sprei dan menyapu lantai karena debu dari bekas pemasangan tadi. Daripada besok gatal-gatal, lebih baik malam ini bersih-bersih. Tapi, ternyata kegiatan malam itu juga menambah masalah baru. Keesokan harinya aku bersin-bersin. Sepertinya karena ruangan yang berdebu (fyi, memasang AC berarti menjebol tembok sehingga pasti menghasilkan banyak debu). 

Begitulah cerita ini berakhir, sebenarnya ini hanya cerita yang dikeluarkan dari kepala yang waktu itu terlalu penuh. Akhirnya, selama weekend yang padahal adalah long weekend aku hanya berdiam diri di kamar. Untungnya di hari Senin sudah bisa memulai hari seperti biasa, dan bertemu dengan orang-orang yang biasanya pula. Begitulah, motivasi itu ternyata lahir dari mas-mas AC yang tiba-tiba datang.  

Comments

Popular posts from this blog

Cerita dari Mahakam: Mangu, Pesut, dan Senja

     Pagi itu langit terlihat sedikit mendung. Di dalam kamar, aku mengemasi barang-barang; memasukkan beberapa pasang baju dan dibalik pintu sepasang sandal tampak setia menunggu. Rencananya siang itu kami akan pergi ke Desa Pela. Ya, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa ini membentang di sepanjang Sungai Mahakam, habitat alami pesut mahakam yang semakin langka.      Sebelum melanjutkan cerita perjalanan, izinkan aku sedikit menjelaskan tentang mamalia unik ini. Pesut Mahakam ( Orcaella brevirostris) merupakan lumba-lumba air tawar yang hidup di sungai tropis. Sejak tahun 2000, pesut mahakam berstatus critically endangered karena populasi pesut dewasa berjumlah kurang dari 50 individu. Pada awalnya pesut mahakam banyak ditemukan di sekitar Muara Pahu-Penyinggahan, Kabupaten Kutai Barat, namun mereka mulai bermigrasi ke daerah Muara Muntai, Pela, dan Muara Kaman akibat meningkatnya lalu lintas ponton batu bara serta alih fungsi la...

Mengenal Manusia

  Manusia. Satu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga, salah satu jenis makhluk hidup yang menempati planet nomor tiga di susunan tata surya Galaksi Bimasakti. Konon katanya manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya karena ia begitu dicintai oleh Sang Pencipta. Bahkan, di antara semua makhluk yang hidup di planet ini, hanya manusia yang diberikan akal dan perasaan olehNya.  Karena memiliki akal dan perasaan, makhluk ini pun menjadi beraneka ragam sifat dan karakternya. Ada yang hidup menjadi orang baik, ada yang menjadi orang jahat, ada yang sangat jahat (bahkan iblis yang bertugas menghasut manusia pun minder dengannya), dan lain-lain. Mengenal manusia juga tidak sesederhana   itu, hati manusia yang tersembunyi di dalam rongga perut sebelah kanannya tidak bisa dilihat langsung, makanya sulit sekali menebak perasaan makhluk ini. Begitu pula apa yang ada di dalam pikirannya. Otak dilindungi oleh suatu kerangka keras bernama tengkorak, kalau tidak dibuka, apa i...

Sedikit Review Buku 'Semua Ikan di Langit'

Beberapa waktu yang lalu tepatnya di 7 Juli aku membeli sebuah novel yang berjudul "Semua Ikan di Langit". Buku ini aku beli karena cover -nya yang menarik dan ada seseorang yang me- review bukunya dan dia mengatakan bahwa bukunya bagus dan mengandung banyak pesan untuk pembaca. Selain itu, ya karena lagi ingin ganti genre saja. Nah, dari situ akhirnya aku check out bukunya di Gramedia Shopee (sekalian waktu promo kan).  Setelah sekitar 3 minggu, akhirnya buku dengan tebal 216 halaman ini berhasil kuselesaikan. Awalnya, aku kira novel ini hanyalah fantasi biasa—ceritanya seru dan bisa selesai dalam beberapa hari. Tapi ternyata, aku salah. Menurutku cerita dalam novel ini tidak bisa diselesaikan dalam beberapa hari, perlu dibaca dengan pelan, baru kita bisa memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis.  Berkeliling bersama Beliau  Menceritakan seorang Bus Damri yang diajak berkeliling angkasa bersama seorang anak laki-laki yang kelak dipanggil 'Beliau'. Nah, siapa...