Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, blog ini sebenarnya digunakan untuk mengeluarkan isi kepala yang terkadang terlalu penuh, aneh, dan mengganggu. Akhir-akhir ini entah karena kesibukan atau kejenuhan, berbagai hal bergema di kepala, cukup mengganggu meskipun aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa.
Tiba-tiba kepikiran, seru kali ya kalau punya abang atau kakak dan bukan jadi anak perempuan pertama di keluarga. Somehow, menjadi anak perempuan pertama itu tidak mudah, tapi tidak bisa dibilang terlalu sulit juga. Beragam ekspektasi rasanya dijatuhkan begitu saja di jiwa kecil ini, bisa kemana-mana sendiri, berani mencoba berbagai hal baru, ah kalo kamu kan bisa, kalo dia harus ditemani, dll dll. Hmm, melelahkan ya, meskipun sebetulnya ini cerita lama dan bukan hal baru.
Sedikit cerita, aku adalah seorang anak perempuan pertama (dan terakhir), yah sebetulnya aku adalah anak tunggal. Meskipun begitu, aku tinggal di rumah dengan beberapa kepala keluarga, keluarga nenekku, orang tuaku, dan pamanku. Pamanku memiliki seorang anak perempuan juga yang jarak umurnya 2 tahun lebih muda dariku. Jadi, bisa dibilang aku punya adik? Oh ya, kalau tidak salah ketika aku SD pamanku sudah membeli rumah baru dan memilih pindah, tapi sepupuku tetap tinggal disana. Delapan belas tahun hidup di dunia, kami menghabiskan waktu di rumah yang sama.
Nenekku cukup konservatif soal cara perempuan seharusnya hidup. Ibuku sebaliknya, beliau memberi banyak kepercayaan untuk mencoba berbagai hal. Tumbuh di antara dua cara pandang itu mungkin menjadi salah satu alasan kenapa aku terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Menurutku, dari pandangan seorang anak yang pernah hidup di sebuah rumah dengan beberapa keluarga, memiliki rumah sendiri setelah berkeluarga itu penting, karena dengan adanya beberapa kepala, menyatukan persepsi menjadi lebih sulit. Kadang, keinginan kepala satu dan lainnya berbeda dan menimbulkan sedikit percikan keributan (yah, sedikit saja sih).
Sebenarnya aku pernah merasa ada beberapa hal yang aku tidak cocok dengan nenekku, seperti perempuan harus di rumah, harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah (bukannya aku tidak bisa ya, hanya tidak hobi), kalau laki-laki tidak masalah tidak bisa, tapi kalau kamu adalah seorang perempuan ya harus bisa. Hmm, tidak ada yang salah dengan itu, tapi menurutku bisa mengurus rumah adalah basic skill untuk kedua gender. Coba bayangkan, kamu bisa mengurus rumah dengan baik, lalu pihak lain hanya bisa membuat rumahnya berantakan, apa tidak kesal?
Oke sudah cukup cerita tentang rumah. Sebenarnya yang agak mengganggu pikiranku adalah persepsi orang terhadap anak pertama (meskipun aku tidak bisa dibilang anak pertama karena aku anak tunggal, tapi anak terakhir tidak akan ada tanpa adanya anak pertama kan?). Seringkali kita dianggap bisa mengerjakan apapun sendiri, bisa kemana-mana sendiri, ah anak mandiri katanya. Tidak salah, memang benar seperti itu. Tapi sebetulnya semua itu bisa dilakukan dengan modal 'nekat'. Anak kedua bisa melihat kakaknya melakukan segala hal, tapi bagi seorang kakak, darimana ia mendapatkan keberanian dan contoh untuk melakukannya? Benar, dari orang tua. Tapi, saat dia dilahirkan menjadi seorang anak pertama, orang tua kita juga masih menduga-duga bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik. Dan berbagai hal yang kita lakukan mungkin sudah tidak relate lagi dengan masa muda orang tua kita.
"Kamu kan kakak masa nggak bisa sih bantuin adiknya","Kamu anterin ya dia ke Kota S besok, kalau kamu kan berani, kalau dia jangan dibiarkan sendiri", dan berbagai kalimat lain yang menganggap aku bisa melakukan segala sesuatu. Dulu, aku tidak masalah dengan hal-hal semacam ini. Kenapa? Karena masih ada ibuku, tempat dimana aku bisa menjadi anak-anak, bisa menjadi anak tunggal yang ingin ditemani kemana-mana, bisa menjadi tempat cerita. Tapi setelah ibuku pergi, di tengah kesibukan dan kejenuhan, ternyata hal-hal yang terjadi di masa lalu ini menjadi suara yang kadang bergema di kepala.
Tiga tahun terakhir rasanya tidak ada manusia yang bisa jadi tempat bergantung. Loh, kan ada tuhan? Sst, aku tahu kok beliau adalah tempat bergantung nomor satu. Tapi, yang namanya manusia tetap butuh manusia lain, kan?
Suatu hari aku adalah seorang perempuan yang mandiri, di hari lain aku ingin menjadi seorang adik yang dituntun dan tidak perlu memikirkan apa-apa. Di hari yang lain lagi, mungkin aku adalah seorang yang ingin menuntun orang lain. Kadang orang mengira anak pertama lahir sebagai sosok yang mandiri, padahal sering kali mereka menjadi mandiri karena tidak punya pilihan selain belajar berjalan lebih dulu.

Comments
Post a Comment